Amerika Serikat bersiap untuk Perang!

Shalom, sahabat CAZ,

Seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, bahwa Donald Trump mengutuk serangan senjata kimia yang terjadi di Idlib, Suriah. Ia memerintahkan serangan balasan dimana, 60 rudal Tomahawk ditembakan ke pangkalan militer Shayrat.

serangan AS di Suriah

serangan AS di Suriah

Menurut media nasional Suriah, SANA, serangan rudal AS menewaskan 9 warga sipil, terdapat sedikitnya empat anak-anak. Namun menurut organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, empat tentara Suriah termasuk seorang perwira senior tewas dalam serangan AS itu. Perwira senior yang tewas dilaporkan berpangkat jenderal, namun identitasnya belum diketahui pasti.

Serangan AS ini dikecam oleh Rusia dan Iran sebagai sekutu Suriah. Oleh sebab itu, mereka mengancam jika bahwa mereka akan melawan AS dengan kekuatan militer penuh, jika AS kembali menyerang Suriah. Iran dan Rusia menganggap aksi AS gegabah dan melanggar ‘garis merah’.

Menanggapi agresi AS, Pusat Komando Gabungan Assad dan sekutunya di Suriah, segera memberi pernyataan bersama.

“Apa yang dilakukan Amerika Serikat lewat serangan udara ke Suriah adalah pelanggaran garis merah. [Jika hal itu kembali terjadi] kami akan merespon dengan tindakan tegas untuk setiap agresi atau pelanggaran garis merah, dari siapapun, dan Amerika tahu kemampuan kami untuk merespon dengan baik,”

Pusat Komando Gabungan itu menyebut bahwa serangan misil AS tidak akan mengendurkan upaya ‘membebaskan’ Suriah.

Saat ini, militer AS telah hadir di utara Suriah. Rusia dan Iran mengatakan bahwa itu adalah ‘pekerjaan’ ilegal.

g7

g7

Bukan hanya, AS sejumlah negara juga akan turut terlibat dalam perang Suriah di bawah komando AS. Diketahui bahwa negara seperti Israel, Prancis, German, Inggris, Negara Arab, dll siap menjegal pemerintahan Bashar al-Assad.  Bahkan, baru-baru ini, negara-negara yang tergabung dalam gerakan G7 mendesak Rusia agar mengkaji ulang dukungannya terhadap rejim di Damaskus. Jika tidak, Rusia bisa mendapat sanksi dari

Sebelumnya Menlu Inggris Boris Johnson menunda kunjungannya ke Rusia menyusul serangan senjata kimia di Khan Sheikhoun, Suriah. Menurutnya serangan tersebut “mengubah situasinya secara fundamental.” Sebab itu ia lebih memilih mengunjungi pertemuan G7 ketimbang melawat ke Moskow.

Atas pembatalan tersebut Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan reaksi tajam.

“Keputusan Johnson sekali lagi mengkomfirmasikan keraguan atas nilai tambah sebuah dialog dengan Inggris, yang tidak lagi mewakili posisi sendiri dalam isu besar atau mempunyai pengaruh pada arah kebijakan politik internasional. Inggris berada di bawah bayang-bayang mitra strategisnya sendiri.”

Rusia

Rusia

Kedutaan Besar Rusia di Inggris bahkan menulis skenario “perang konvensional” menyusul sikap keras negara-negara G7. Dikuatirkan ultimatum negara G7 terhadap Rusia dapat. memicu perang.

Pesan AS kepada Korea Utara melalui serangan di Suriah

Serangan AS ini juga menjadi peringatatan bagi banyak pihak, bukan hanya Suriah, tetapi juga Korut. Ini adalah peringatan tidak hanya bagi Suriah, tapi negara lainnya termasuk Korut yang jika mereka membahayakan, maka kami siap bertindak,” ujar Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson

Korut sangat mengecam atas serangan AS di Suriah. Lewat agensi berita nasional KCNA, Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut serangan AS ke Suriah tersebut membenarkan langkah penguatan militer yang dilakukan negaranya.

“Serangan rudal AS ke Suriah jelas-jelas tidak bisa dimaafkan. Itu adalah sebuah aksi agresi melawan negara yang berdaulat. Korea Utara dengan keras mengutuk serangan tersebut,” sebut perwakilan Kementerian Luar Negeri seperti dikutip dari Reuters.

AS sendiri mengirimkan Kapal USS Carl Vinson dan kapal perang lain ke Semenanjung Korea. Tujuan Trump ialah untuk untuk memastikan bahwa tidak ada aktivitas nuklir di Semenanjung Korea.  Seperti diketahui bahwa dalam 3 bulan ini, korut telah melakukan 3 kali uji coba senjata nuklir, yang jelas-jelas dilarang oleh hukum Internasional. Awal bulan ini, Korea Utara menguji coba rudal taktikal dengan kelas Scud yang memiliki jangkauan sejauh 180 kilometer. Sedangkan Maret lalu, Korea Utara juga meluncurkan empat rudal balisik dari Tongchang Ri dan menempuh jarak 1000 kilometer sebelum jatuh ke Laut Jepang.

Presiden Trump sudah memerintahkan penasihat militernya untuk menyiapkan opsi rencana serangan terhadap rezim Pyongyang. Tujuan rencana serangan AS untuk melucuti senjata nuklir Korut yang jadi ancaman bagi warga AS dan sekutu-sekutu Washington. Trump kuatir kalau-kalau Korut benar-benar menguji coba senjata nuklir antar benua yang sanggup mencapai AS.

Ancaman AS ini disambut oleh Korut. Pyongyang menegaskan, AS akan mendapatkan konsekuensi keras atas setiap provokasi yang dilakukan.

“Kami akan membuat AS bertanggung jawab penuh atas bencana yang dipicu akibat tindakan keterlaluan mereka,”. “Kami akan mengambil tindakan balasan paling keras dengan kekuatan militer melawan provokator demi mempertahankan diri kami.”

Korea Utara juga mengatakan langkah mereka diprovokasi oleh latihan militer antara AS dan Korea Selatan, yang mereka anggap sebagai persiapan untuk invasi.

Sebelumnya, mantan diplomat senior Korea Utara yang telah membelot menyebut Kim Jong-un bersiap menyerang Amerika Serikat dengan senjata nuklir. Menurut Yong Ho, Korut telah mempersiapkan senjata nuklir dan rudal balistik antarbenua atau ICBM sebagai prioritas utama untuk menghadapi Amerika.

Para ahli sudah memperingatkan dampak mengerikan jika perang AS dan Korut benar-benar pecah. Salah satunya, jika rezim Kim Jong-un nekat menembakkan senjata nuklir. Senjata andalan Pyongyang itu dikhawatirkan benar-benar mampu menghantam AS.

Rusia pun kuatir kalau-kalau AS benar-benar ingin menyerang Korut.

“Kami sungguh khawatir soal apa yang ada di dalam pikiran Washington untuk Korea Utara, setelah negara itu (AS) mengindikasikan kemungkinan skenario militer secara sepihak,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Sementara itu, China yang merupakan sekutu terdekat dengan Korut terlah mengabil kebijakan, setelah pertemuan dengan Menlu Korea Selatan. Presiden China telah bertemu dengan Trump dan menyetujui rencana Amerika tersebut, mengingat keadaan di Semenanjung Korea sudah mencapai tingakat ancaman terntetu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan, AS sudah siap menyelesaikan masalah Korea Utara, tanpa kehadiran China.

“Korea Utara mencari masalah,” tulis Trump di akun Twitter-nya. Ia juga mengatakan  “Jika China memutuskan untuk membantu, itu akan sangat baik. Tapi, jika tidak, kita akan menyelesaikan problem itu tanpa mereka! U.S.A”.

Namun, dikabarkan bahwa Pemerintah China mengerahkan 150.000 tentara ke perbatasan dengan Korea Utara untuk mengantispasi jika AS menyerang rezim Kim Jong Un. Pengerahan ratusan ribu tentara China ini diduga untuk mengantisipasi para pengungsi Korut yang akan melarikan diri jika setiap saat AS meluncurkan serangan pendahuluan atau dikenal sebagai serangan pre-emptive.

Dikabarkan juga bahwa China juga mengirim pasokan-pasokan medis untuk mendukung operasi di perbatasan. Bahkan, Kapal selam China juga dilaporkan telah dikirim ke sekitar kawasan itu.

Selain mengirim angkatan laut, AS juga dikabarkan telah memulai operasi bersama di Suriah dengan beberapa negara seperti Inggris dan Yordania.

 

Facebook Comments

2 comments

  1. Perang adalah salah satu tanda akhir zaman.Tak perlu takut!!! YESUS KRISTUS adalah keselamatan, barang siapa yang percaya kepada YESUS KRISTUS akan selamat. Hanya dalam DIA……. Hanya dalam DIA……..Hanya dalam DIA !!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: