Sanhedrin Telah Mendeklarasikan Tahun Yobel dan Memilih Imam Besar!

Setelah setahun penuh pembahasan, mulai muncul Sanhedrin yang mengumumkan bahwa tahun ini adalah tahun pertama dalam penghitungan siklus 50 tahun Yobel. Hal ini bukan hanya mengembalikan perintah Alkitab, tetapi memiliki implikasi untuk status Israel sebagai bangsa dimandatkan secara Alkitabiah, mengembalikan tanah kepada orang-orang Yahudi dan memastikan setiap orang Yahudi warisan di negeri itu.

Tahun Yobel yang disebut dengan Hayovel dalam bahasa Ibrani adalah perintah Alkitab yang diamati secara eksklusif di tanah Israel. Ini adalah tahun kelima puluh yang datang setelah periode 7 sabat. Dalam Alkitab tahun Yobel menuliskan bahwa pengembaliakn tanah kepada pewaris aslinya, hutang dan budak dihapuskan.

Yobel tergantung pada kondisi tertentu yang berkaitan dengan orang-orang Yahudi berada di tanah mereka, meskipun ada banyak perbedaan pendapat tentang persyaratan khusus. Akibatnya, Yobel belum diamati sejak Bait Kedua ketika orang Yahudi kembali dari pembuangan Babel.

Untuk saat ini, tidak ada implikasi praktis, bahkan sangat sedikit orang-orang Yahudi telah mengakui keputusan  perhitungan Yobel  Sanhedrin. Meskipun demikian, ini adalah keputusan inovatif yang akan memiliki konsekuensi yang sangat besar di masa depan.

Hillel WeissRabbi Hillel Weiss, sekretaris Sanhedrin mengatakan bahwa tentu keputusan ini adalah keputusan yang kontroversial dalam rangka mengembalikan tahun Yobel. Ia menegaskan bahwa tidak seperti kebanyakan perintah Taurat yang didasarkan pada ketaatan pribadi masing-masing orang Yahudi, Yobel hubungannya dengan identitas nasional Israel.

Rabbi Weiss menyatakan, “Ini adalah waktu untuk mulai mengamati perintah positif menghitung Yobel.” Sebagian besar orang Yahudi yang tidak menyangkal identitas Yahudi mereka tinggal di Israel hari ini. Tidak ada bangsa Yahudi di luar Tanah Israel, “katanya. “Harus ada setidaknya 600.000 orang Yahudi, seperti jumlah yang kembali ke Israel dari Mesir di bawah kepemimpinan Yosua.”

Sayangnya, banyak orang Yahudi yang mempertanyakan otoritas Sanhedrin ini. Meski demikian, sanhedrin ini berkomitmen untuk mengembalikan pelayanan di Bait Suci nantinya. Baru-baru ini, mereka telah memilih Rabbi Baruch Kahane sebagai imam besar. Rabbi Kahane yakin bahwa jika terjadi perubahan politik yang memungkinkan orang-orang Yahudi bisa mengakses Temple Mount (seperti yang diwajibkan oleh hukum Taurat), maka layanan Bait Suci ini bisa dimulai dalam waktu kurang dari satu minggu.

Baruch Kahane

Rabbi Kahane adalah seorang pemimpin terkemuka, memiliki kemampuan dalam hukum yang rumit, yang berkaitan dengan layanan di Bait Suci. Dia adalah bagian dari Halacha Berurah Institute yang didirikan oleh Rabbi Avraham Isaac HaCohen Kook.

Sumber : breakingisraelnews.com

Facebook Comments

One comment

  1. Netty Arni, SH - Notaris

    Semoga Israel menjadi seumpama pohon anggur yg manis rasanya dan tidak asam, ……. Dan bisa menjadi kebun anggur yg indah dipandang mata, ……. Yg mampu mengalirkan sungai anggur yg bisa diminum dan tidak memabukkan, …….. Yg bisa menyegarkan jiwa-jiwa bagi yg meminumnya, ……. Seumpama sungai anggur yg ada di Taman Eden-Nya ataupun di Surga Firdaus-Nya, ……. Maka ‘Yerusalem Sorgawi’ ataupun ‘Nuzulul Firdausi’ akan ada di muka bumi ini, ……. Membuat shekinah/ketenangan kedamaian kesejahteraan di langit dan di bumi, ……. Amiin – Puji Allah – Allah Maha Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d bloggers like this: